Jalur Laut Tenang

on Sabtu, 24 September 2011

Kau adalah temanku. Kau adalah sahabatku. Kau juga adalah kekasihku. Tapi itu sudah lampau, bukan sekarang. Tersungkur oleh musuh umat Muhammad, itulah yang kau alami. Bergelut dengan perbuatan nista. Apa kau bangga dengan semua ini ? Apa itu adalah tujuanmu dilahirkan ? Hanya kau yang tahu itu, bukan aku.

Kau di berikan kehidupan, tapi inikah caramu membalas pemberian itu ? Ketahuilah, sobat. Sekarang kita hanya berada di tempat persinggahan, tempat kita menunggu. Dan pada akhirnya, beberapa tahun, bulan, hari, atau mungkin berhitung jam, menit, dan detik. Aku, kamu dan jenismu yang lain, akan meninggalkan ruang tunggu ini.

Tapi lain hal dengan aku, sobat. Aku punya bekal. Sesuatu yang diperlukan setelah melewati ruang tunggu ini. Namun, bagaimana denganmu ? Apa kau juga mempunyai hal yang sama denganku ? Aku pikir tidak.

Kini, kau berada di “Jalur Laut Tenang” sebuah jalur dimana engkau tidak bisa berputar arah lagi. Terus mengikuti arus dan pada ujungnya, kau akan menemukan tempat musuh.


Gara-gara kartu remi

on Selasa, 26 Juli 2011

Hu hu hu ………

Sepertinya hari ini angin kesialan sedang berhembus ke kelas ku …

Bagaimana tidak, sudah beberapa hari terakhir, hampir semua siswa di dalam kelasku asyik – asyiknya bermain kartu remi disela – sela waktu luang mereka saat pergantian jam pelajaran atau saat guru tak masuk mengajar. Namun, hari ini mungkin adalah hari terakhir mereka bermain kartu tersebut. Yaa… setelah kedapatan oleh seorang guru tentunya.

Saat guru itu masuk, sebenarnya banyak teman – temanku yang sedang bermain (termasuk aku, but this is my first time) namun karena kelihaian kita – kita mengelabui guru, ya akhirnya hanya 4 orang yang kedapatan sedang bermain kartu remi karena kartunya masih dia pegang.

Walaupun tidak ketahuan, aku merasa sangat tegang dan takut serta bercampur dengan sedikit rasa senang. Namun semuanya tak kupikirkan lagi, yang penting aku tidak ketahuan dan berjanji dalam hatiku tidak akan bermain kartu remi lagi “di lingkungan sekolah”. Aku juga merasa kasihan kepada teman – teman ku yang kedapatan bermain tadi, apa mereka akan dihukum ?. Mudah – mudahan tidak.

Seandainya aku yang menjadi mereka dan dibawa ke ruangan BK … mungkin aku sudah tak dapat menahan rasa takutku dan akan menangis … maklum aku orangnya agak – agak gimana yahh… tidak bisa menahan air mata lahh …

Saat mereka ber-4 dibawa ke ruang BK. Semua teman sekelasku yang lain membuang semua kartu – kartu remi yang dipakai tadi dengan cepat. Cara itu mungkin bisa menghilangkan bukti – bukti tersebut…

Satu hal yang sedang menggejolak di benakku. Mengapa guru itu tiba – tiba datang dan masuk ke kelasku ? Apa ada yang melapor … ? rasanya aneh.

Tapi untuk apa aku memikirkannya … itu hanya akan menambah beban.

Jadi, aku hanya bersyukur tidak kedapatan saat sedang bermain ^_^

SAD & HAPPY

on Senin, 18 Juli 2011
Aku Mau Curhat aja dehhh ... ^_^

Hari ini …


Aku sangat sedihh, karena harus memahami bahwa aku telah berpisah dengan orang yang sangat aku sukai, walaupun itu hanya sekedar berbeda kelas tapi aku tidak rela berlainan kelas dengannya. Sebelum saat – saat pergi, ia sempat bercanda – tawa denganku disaat – saat genting dimana aku harus menginjakkan kaki ke kelas lain.

Hari ini …

Aku juga sangat bahagia, walaupun harus berpisah dengannya dalam kurun waktu yang cukup lama “menurut saya”, aku berfikir bahwa semakin menjaduh dari dirinya tentu akan membuatku semakin merindukannya dan hampir setiap waktu memikirkannya.

Dan Hari ini pula ( lebih tepatnya malam ini lahh ) …

Aku merasa sangattt sangattt lelahhhh …

Ayo tidur … zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

Hanyakah sebuah ornamen bangsa ... ?

on Rabu, 01 Juni 2011

Pancasila …

Adakah rakyat Indonesia yang tidak mengenal Pancasila ? Pancasila sudah tidak asing lagi ditelinga rakyat Indonesia. Kalau pun ada yang tidak mengenal Pancasila maka patut dipertanyakan statusnya sebagai warga negara Indonesia. Jika berbicara tentang Pancasila maka kita akan membahas Ideologi Bangsa Indonesia. Sebuah Ideologi yang harusnya menjadi dasar dari setiap masyarakat dalam melakukan tindakan. Mau itu pejabat, polisi, dokter, masyarakat biasa dan lain – lain. Namun, seiring menuanya dunia, lambat laun ideologi itu sudah mengalami distorsi dari fungsi sebenarnya.

Korupsi, konflik antar suku bangsa, adanya mafia hukum adalah contoh kecil dari banyaknya tindakan – tindakan dari warga Indonesia yang membuktikan bahwa ideologi Pancasila sudah tidak lagi menjadi ideologi rakyat Indonesia.

Sedikit saya menyinggung kata – kata B.J Habibie pada pidato dalam peringatan hari lahir Pancasila tanggal 1 Juni 2011 kemarin. Ia berkata bahwa pada masa rezim orde baru, terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif. Lalu menjadi senjata ideologis dan memposisikan Pancasila sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan.

Maka saat terjadi pergantian rezim dari era Orde Baru ke era Reformasi, maka timbullah suatu demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang mengaggap Pancasila sebagai simbol atau ikon politik pada masa Orde Baru. Ini merupakan suatu kesalahan besar.

Pancasila dianggap sebagai suatu ideologi monopolistik. Jadi seiring banyaknya euforia reformasi maka semakin tenggelam pula ideologi bangsa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1945 tersebut. Jadi perlu reaktualisasi nilai – nilai Pancasila

Oleh karena itu, marilah kita kembali menjadikan Pancasila sebagai dasar dalam melakukan berbagai tindakan, menjadikan kembali sebagai ideologi Bangsa Indonesia bukan hanya sekedar ornamen politik. Ubahlah tindakan kita sehingga berasaskan kelima hal berikut :

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

3. Persatuan Indonesia.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Kebijksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

5. Keadilan Sosiial bagi seluruh Rakyat Indonesia.