Penikmat Senja

on Selasa, 21 Juli 2015
Membicarakan senja memang begitu menarik. Bagaimana tidak? Setiap orang ingin menutup harinya dengan keindahan. Aku ingin terus menikmati senja, dengan siapa saja dan dimana saja.


Tapi aku bersyukur, dapat menikmati senja dengan orang-orang terbaik.

@sukma_srii : "karena hal konyol gak asik dilakuin sendiri" - with @sa_ucii @chrestellastela @rahmatbiasa Azwar, dan Firman

Senja dibalik perbukitan ssekitar Bendungan Benteng, Patampanua, Kabupaten Pinrang.

Matahari sore di Pantai Waetuwoe, Jampue, Lanrisang, Kabupaten Pinrang

with @chrestellastela @wiidya.astuti @nadrajuharis

Terima kasih teman, sahabat...

Gerakan Anti Korupsi KPKNL Makassar

on Sabtu, 10 Mei 2014


"Korupsi?? No Way Man!!" sebuah slogan yang tertempel erat pada pintu masuk Area Pelayanan Teladan KPKNL Makassar dan juga di hati para pegawainya.

     Korupsi merupakan suatu kejahatan kriminal yang dibenci oleh masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Kasus korupsi sudah banyak terungkap dan dilakukan oleh para petinggi-peting bangsa ini. Bahkan tak jarang, korupsi bisa merugikan negara dan menghabiskan uang rakyat hingga triliunan. Khususnya di Kementerian Keuangan, yang merupakan lembaga dengan tugas mengatur keuangan negara, banyak disoroti mengenai dugaan kasus korupsi. Hal yang sama juga terjadi pada 12 Direktorat yang berdiri dibawah naungan Kementerian Keuangan. Salah satunya Direktorat Jenderal Kekayaan Negara dengan sebuah intansi vertikal dibawahnya yaitu Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Kegiatan mereka yang berhubungan langsung dengan penerimaan negara memang mendapat banyak godaan. Walaupun memang tidak separah godaan korupsi yang terjadi di Kantor Pajak tetapi integritas pegawai perlu dijaga. 

       Ketika menjelajah ruangan di KPKNL Makassar, tak jarang berbagai banner anti korupsi tertata rapi di sepanjang koridor. Bukan hanya bagi pegawai, slogan-slogan ini juga ditujukan bagi masyarakat yang datang meminta pelayanan di kantor ini. Seperti “Jangan Rusak Integritas Kami Dengan Memberi Imbalan Untuk Pelayanan Yang Kami Berikan” karena praktek-praktek korupsi biasanya dimulai bukan dari petugas. 

     Jiwa anti korupsi di KPKNL diterapkan lebih kuat pada bagian Pelayanan (APT) yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Hal itu dilakukan dengan menujukkan sikap ramah sekaligus tegas di hadapan masyarakat. Sikap tegas itulah yang dapat dijadikan penilaian bahwa petugas masih memegang teguh kode etik pegawai dan SOP (Sandar Operating Procedure). 

     Maka dari itu, mari ikut mengawal jalannya reformasi birokrasi yang baik tanpa adanya kasus-kasus korupsi yang merugikan bangsa, negara dan masyarakat. Mari mulai dari diri sendiri, seperti tidak korupsi waktu. Dan lebih penting lagi, tidak melakukan hal-hal yang akan menyebabkan terjadinya korupsi, seperti pada peringatan sekaligus pujian pada sebuah banner KPKNL bertuliskan “Terima Kasih. Anda Tidak Memberi Apapun Pada Saat Berurusan Dengan Petugas Kami”. 

Cerpen Sehari

on Sabtu, 06 April 2013

No Title...

Suara tembakan menghardik akalku dari lelap. Peluru-peluru dari senjata M4A1 buatan Amerika itu tak henti-hentinya berdering. Mengalahkan irama dari gesekan sayap jangkrik. Seperti biasa, saudaraku selalu memainkan game andalannya menyambut fajar, Counter Strike. Ia memang sangat gemar akan sesuatu hal yang bersifat menantang, termasuk memainkan aksi tembak-menembak dalam sebuah permainan komputer. Aku biasa memanggilnya adik, tapi tak pernah sama sekali ia memanggilku kakak.
Dari balik jendela kaca dalam kamar, kuterawang keluar. Langit masih tetap pada corak hitam kelabunya. Menandakan belum waktunya untuk memulai aktivitas hari ini. Semilir angin sejuk mulai membuat tubuh ini menggigil. Maka mulailah pengembaraan pikiran pagi itu. Tafakur menjadi pembukanya. Lalu diselingi berbagai fantasi atas beberapa hal yang ingin ku raih. Khayalan atas keinginan-keinginan yang belum tercapai.
Malam mulai menggulung ke barat. Tergeser oleh sinar mentari yang mulai mendorong dari arah timur. Tampak gelombang cahaya kekuningan mulai berkumpul pada ventilasi kamar. Menerobos melalui celah udara. Memberhentikan setiap langkah pengembaraan yang tadi kulakukan.
Sudah terpikir akan hal-hal yang berhubungan dengan sekolah. PR, tugas, buku, dan seragam adalah beberapa hal yang berotasi dalam otakku. Bergerak cepat saat pagi bukan keahlianku. Malah masih sempatnya kunyalakan komputer jinjing milikku. Menjelajahi dunia maya dan memutar tanggal lagu favorit. Bibirku mulai mendengunkan lirik-lirik dalam lagu Complete milik Girls’ Generation, girl group terkemuka asal negeri ginseng, Korea Selatan. Alunan suara emas dari sembilan bidadari cantik itu seakan tak mau hilang dari pendengaran, sekalipun setelah membasuh tubuh dengan air. Baru kali ini aku merasa bersemangat untuk memulai hari dengan baik. Ini mungkin karena lagu tadi, namun tetap tak bisa menghentikan keleletanku pagi ini. Sudah menjadi fenomena umum kalau aku memang terkesan lambat.
“Ayo makan, Nak!” perintah ibuku setiap pagi. Namun tetap saja respon yang kuterima berjalan lambat. Perintah itu baru bisa aku lakukan setelah berselang 10 sampai 15 menit. Bukan hanya aku, saudara-saudaraku pun juga begitu. Mungkin ini adalah sifat turunan.
Jam dinding sudah menujukkan pukul 06.47 pagi, waktunya untuk berangkat ke sekolah bersama saudaraku. Segera kutancapkan gas motor cub  asal Jepang yang berlambangkan satu sayap itu. Menyusuri Jalan Lasinrang yang agak ramai. Terpantul cahaya lampu sorot motorku di jalan yang masih basah akibat hujan malam tadi. Memburu waktu, itulah yang kulakukan. Jarum pada spedometer menanjak dengan perlahan. Putaran dua roda yang menopang tubuhku semakin cepat saja. Beberapa kali terdengar tiupan peluit dari seorang polisi tegap yang berdiri di persimpangan jalan. Mengatur ritme lalu lintas di setiap ruas jalan.
***
Waktu terbiasa berlalu dengan cepat. Secepat anganku yang datang dan pergi begitu saja. Ketika bel sekolah berbunyi, desahan nafas mulai terdengar jelas. Pelampiasan atas rasa puas dan penantian. Jam pulang adalah penyelamat bagi sebagian besar siswa disini, di SMA Negeri 1 Pinrang.
“Nanti bisa tidak datang ke rumahku ?” tanya seseorang. Dengan tiba-tiba,  sorot mata yang tajam ia menatapku. Lesung pipi itu terlihat jelas. Pikiranku buyar oleh pesonanya. Dimulailah persoalan ketika hati dan pikiranku beradu. Antara kata ya atau tidak. Lidahku bingung memilih hati atau pikiran.
“Untuk apa ?” kata-kata itu terlontar saja dari bibirku. Seakan menjadi petengah antara pertempuran batin tadi.
“Kita kerja tugas Matematika, sekalian ajarka juga Fisika,”
“Jam berapa je ?”
“Kira-kira jam berapa bisa ki ?”
“Sekitar jam 3 pi pale saja,”
“Iya, sembarang ji. Sms-ka saja kalau mau meki berangkat !”
“Iya, nanti saya sms,”
***
Tetesan air hujan mulai turun kembali. Iringan bunyi atap seperti sebuah simponi yang mewakili batinku. Berdenyut tak berirama, jantung ini seolah ingin meronta. Kembali terdengar suaranya yang lembut menghangatkan raga yang cukup menggigil. Kebahagiaan ini teraduk rata dengan perasaan kaget. Di ruangan yang cukup luas ini, jemariny tak pernah berhenti untuk menuliskan perintah-perintah yang kuucapkan.
“Okee… sudah selesai,” senangnya.
“Alhamdulillah…,” tambahku.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan ?” ajakan yang sangat pantas. Ditengah kelelahan, refreshing merupakan hal yang wajib.
“Kemana ?”
“Kita jalan-jalan ke bendungan,”
“Okelah,”
Hujan reda, mentari kini mulai kembali menatap dunia. Kutancap gas motorku. Menuju suatu tempat dimana pelangi bisa bersinar. Bendungan Benteng, bangunan sisa zaman kolonial yang masi kokoh berdiri selama 70 tahun lebih. Tempat itu kebetulan berjarak dekat dari tempat tinggalnya. Banyaknya debit air yang menabrak dinding sungai membuah suara riuh. Memainkan nada selama perjalanan kami.
Tapi hanya ada satu masalah. Lidah ini tak bisa mengungkapkan atas apa yang telah dirasakan hati. Be fine and rilex, itu yang selalu saja terbesit dalam benakku. Namun, kali ini berbeda dari biasanya. Getaran itu lebih besar. Seirama getaran yang ditimbulkan oleh getaran kendaraan roda dua yang kunaiki.
“Sudah sampai,” kembali membuyarkan pikiranku yang semula melayang.
“Ohh… iya,”
Jarum jam ditangan menujukkan pukul 17.24. Terbias sinar jingga pertanda waktu senja di ufuk barat. Ragaku masih tetap mencoba menahan perlawanan batin. Semakin kumelihatnya, semakin pula batinku bertambah tenaga untuk berontak.
“Hey… kenapa ki ?” tanyanya melihat tingkahku.
“Ahh… tidak ji,”
“Tapi kenapa keringatan sekali ? Padahal dingin cuaca,” tanyanya sekali lagi memojokkanku.
Aku terdiam. Sesekali ia kembali menatap mataku penuh makna. Kemudian berpaling kembali.
“Ayo kita naik ke atas,” perintahnya menuju suatu tempat yang nampaknya sebuah taman. Pepohonan rindang tertanam diatas sana. Sangat cocok, namun tetap lidahku tak mampu mengucapkannya.
Hal yang tak kusangka terjadi. Seharusnya kata-kata itulah yang seharusnya terlontar dari pita suaraku. Seharunya bukan dia.
“Aku menyukaimu,” memacu aliran darah ini semakin cepat. Mentari masih menatap dunia dengan sedikit malu. Bersembunyi dibalik awan senja. Saksi akan kisah ini. Burung-burung ikut berkicau bersamaan dengan riuh air dari balik bendungan.
“Aku juga,”
Kemudian hening, di ujung senja.

GELAP !!!

on Selasa, 11 Desember 2012
Sedikit berbagi cerita. Ini adalah cerita biasa pada malam minggu. Seperti para remaja pada umumnya, dan para jomblo pada khususnya, malam minggu adalah malam yang sama saja dengan malam-malam lain. Tapi hanya sedikit berbeda pada tingkat kegalauannya. Malam itu, 17 November 2012, sekitar jam setengah 8 setelah shalat isya, bukannya menikmati malam yang indah itu, tapi malah rajin-rajinya kerja tugas bahasa Indonesia yakni “Membuat Video Pembacaan Puisi”.

Nahh… tadi sekedar pembuka, sekarang masuk ke cerita. Ceritanya, puisi yang akan saya bawakan tentang perpisaha antara kekasih dan kekasih yang satunya. Jadi, latar panggungnya saya ambil  sebuah masjid megah di Pinrang, yaitu Masjid Al-Munawwir. Tema perpisahan latarnya di masjid, pilihan yang sempurna #ehhh

Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan namun ada hubungannya. Ada satu hal yang bisa dikatakan sangat memalukan bagi saya dan teman saya. Ketika itu sedang asyik-asyiknya mencari tempat yang paling baik di sekitar masjid. Nah… teman saya ini bilang “Mau ki tempat gelap yang bagaimana kah ?”. Pikiran pertama yang muncul ketika membaca atau mendengar kalimat hanya kalian aja yang tau, tapi pasti mengarah ke hal-hal yang agak gimana gitu… Untung teman saya yang bilang itu seorang cewek, kalau cowok gimana ? pasti pikiran orang-orang disekitar saya waktu itu mengira kalau saya itu homo.

Tapi sebenarnya, maksud dari pertanyaan itu ialah mencari tempat yang agak sesuai dengan teman, yahh yang ada nuansa-nuansa gelap-gelap gitu lah…

Okeee… cukup sekian berbagi ceritanya kali ini.. 

tambahan : 
Namanya, Wiwi

 

Dua Pelangi

on Selasa, 10 April 2012
Pelangi ganda, suatu hal yang paling mengesankan buatku. Luar biasa, dua kata yang paling awal muncul di dalam batinku. Dengan arah, bentuk, dan warna yang sama. Tak lupa, tujuan yang sama pula, yaitu mengidahkan langit biru yang ku tatap sore ini. Berbaur dengan kelompok-kelompok sang malaikat langit yang terbang pulang menuju singgasananya. 

Pelangi ganda, menggambarkan citra keindahan yang sesungguhnya. Memanjakan bagi yang memandang. Tak cuma itu, menindih rasa gelisah dengan kedamaian, itupun yang kurasakan saat itu. Membayangkan berada di tempat seindah itu, khayalan yang mengetuk-ngetuk pintu imajinasiku. 

Sayang, kini ia tak dapat lagi terlihat. Gelap malam dan riuh hujan menghapusnya dari kedudukan sebagai ratu langit. Saat pelangi itu mulai mencoba untuk berlari, tak ada yang bisa ku perbuat. Hanya termenung dan terdiam. Benakku berontak, "Kau harus mengejarnya". Mengejar Pelangi ? Aku rasa itu tidak mungkin.

Kini aku hanya berharap untuk dapat melihat dua pelangi indah itu lagi.



sumber gambar
maaf, saya tidak bisa memotret pelangi itu

Malaikat Cahaya

on Jumat, 16 Maret 2012
Malam bersembunyi dalam gelap. Kini bermacan desas-desus deras menghantam fantasiku. Aku telah jatuh, tatkala harap telah berpindah pemiliknya. Kesepuluh jemari masih menggerutu di atas papan kunci, menunggu pinangan indah dari pemilik separuh hati.

“Krinnggg,” buatan Finlandia itu kini memajang seuntai kata. Hati kini dipagari rindu, amat dalam dan sangat dalam.

“Tetap sabar, aku yakin semangatmu tak prnah habis,” rasaku bergetar, sebuah kalimat penyemangat yang jiwaku ingin sekali saksikan. Malam ini kau datang, mengobati pilu dan kesakitan. Aku senang.

 # # #

Malam ini aku kembali jatuh…
Apakah kau akan kembali datang, wahai Malaikat Cahayaku …

Kesasar !

on Kamis, 24 November 2011
Bantuan orang lain sangat berarti dalam hidup


        Malu bertanya, sesat di jalan. Sebuah pribahasa yang cukup layak untuk menjelaskan apa yang ku alami hari ini. Tak ada yang mengira akan terjadi seperti ini. Perjalanan menuju SMA Negeri 2 Pinrang (Kec. Tiroang, Kab. Pinrang) yang menjadi tempat tujuanku untuk mengantar undangan memang tidak terlalu jauh. Namun, Kesombongan dan Ke-sotta-an membawa ku pada kesesatan. Perjalanan di bawah panas terik matahari terasa sangat lama. Tentu, karena kami (aku dan Dinul, teman sekelasku) sudah sangat jauh melewati sekolah tersebut. Banyangkan saja kami sudah menjauhi kota Pinrang sepanjang 11 km. Tinggal 9 km lagi maka kami akan tiba di Kab. Sidrap, daerah tetangga.



Beruntunglah kami, seorang Polisi dengan wajah ‘menyeramkan’ telah memberitahu kami bahwa kita sudah sangat jauh melewati SMA 2. Tak khayal, semua tubuhku terasa lemas menyadari kenyataan tersebut. Kembali ke panas terik, perjalanan menuju SMA 2 terasa tanpa arti dan tujuan. Yah,  itulah sepercik pengalamanku hari ini. Semoga dapat menjadi pelajar yang bisa sangat berarti buat ku. ^_^

Mencintai Seseorang

on Rabu, 23 November 2011
Mencintai seseorang … ?

Tak ada masalah dengan ‘mencintai seseorang’ . walaupan tanpa membuat relasi Cinta. Seperti perkataan Mr. meong, cinta itu tak harus dimengerti. Namun, harus dirasakan dengan hati. Merasakan sebuah cinta tentu saja melahirkan sebuah kasih sayang, jika tidak… maka itu bukan ‘cinta’ yang baik.
Cinta tak harus memiliki … ? aku beranggapan itu benar. Cukup rasakan dengan hati, itu dapat lebih menenangkan daripada mengucapkan.
Kembali ke ‘mencintai seseorang’ tanpa memiliki Itu tak masalah. Tohh.. kita diciptakan dengan perasaan cinta dan kasih sayang walaupun tanpa hal yang namanya 'pengungkapan' ...


Jalur Laut Tenang

on Sabtu, 24 September 2011

Kau adalah temanku. Kau adalah sahabatku. Kau juga adalah kekasihku. Tapi itu sudah lampau, bukan sekarang. Tersungkur oleh musuh umat Muhammad, itulah yang kau alami. Bergelut dengan perbuatan nista. Apa kau bangga dengan semua ini ? Apa itu adalah tujuanmu dilahirkan ? Hanya kau yang tahu itu, bukan aku.

Kau di berikan kehidupan, tapi inikah caramu membalas pemberian itu ? Ketahuilah, sobat. Sekarang kita hanya berada di tempat persinggahan, tempat kita menunggu. Dan pada akhirnya, beberapa tahun, bulan, hari, atau mungkin berhitung jam, menit, dan detik. Aku, kamu dan jenismu yang lain, akan meninggalkan ruang tunggu ini.

Tapi lain hal dengan aku, sobat. Aku punya bekal. Sesuatu yang diperlukan setelah melewati ruang tunggu ini. Namun, bagaimana denganmu ? Apa kau juga mempunyai hal yang sama denganku ? Aku pikir tidak.

Kini, kau berada di “Jalur Laut Tenang” sebuah jalur dimana engkau tidak bisa berputar arah lagi. Terus mengikuti arus dan pada ujungnya, kau akan menemukan tempat musuh.


Gara-gara kartu remi

on Selasa, 26 Juli 2011

Hu hu hu ………

Sepertinya hari ini angin kesialan sedang berhembus ke kelas ku …

Bagaimana tidak, sudah beberapa hari terakhir, hampir semua siswa di dalam kelasku asyik – asyiknya bermain kartu remi disela – sela waktu luang mereka saat pergantian jam pelajaran atau saat guru tak masuk mengajar. Namun, hari ini mungkin adalah hari terakhir mereka bermain kartu tersebut. Yaa… setelah kedapatan oleh seorang guru tentunya.

Saat guru itu masuk, sebenarnya banyak teman – temanku yang sedang bermain (termasuk aku, but this is my first time) namun karena kelihaian kita – kita mengelabui guru, ya akhirnya hanya 4 orang yang kedapatan sedang bermain kartu remi karena kartunya masih dia pegang.

Walaupun tidak ketahuan, aku merasa sangat tegang dan takut serta bercampur dengan sedikit rasa senang. Namun semuanya tak kupikirkan lagi, yang penting aku tidak ketahuan dan berjanji dalam hatiku tidak akan bermain kartu remi lagi “di lingkungan sekolah”. Aku juga merasa kasihan kepada teman – teman ku yang kedapatan bermain tadi, apa mereka akan dihukum ?. Mudah – mudahan tidak.

Seandainya aku yang menjadi mereka dan dibawa ke ruangan BK … mungkin aku sudah tak dapat menahan rasa takutku dan akan menangis … maklum aku orangnya agak – agak gimana yahh… tidak bisa menahan air mata lahh …

Saat mereka ber-4 dibawa ke ruang BK. Semua teman sekelasku yang lain membuang semua kartu – kartu remi yang dipakai tadi dengan cepat. Cara itu mungkin bisa menghilangkan bukti – bukti tersebut…

Satu hal yang sedang menggejolak di benakku. Mengapa guru itu tiba – tiba datang dan masuk ke kelasku ? Apa ada yang melapor … ? rasanya aneh.

Tapi untuk apa aku memikirkannya … itu hanya akan menambah beban.

Jadi, aku hanya bersyukur tidak kedapatan saat sedang bermain ^_^

SAD & HAPPY

on Senin, 18 Juli 2011
Aku Mau Curhat aja dehhh ... ^_^

Hari ini …


Aku sangat sedihh, karena harus memahami bahwa aku telah berpisah dengan orang yang sangat aku sukai, walaupun itu hanya sekedar berbeda kelas tapi aku tidak rela berlainan kelas dengannya. Sebelum saat – saat pergi, ia sempat bercanda – tawa denganku disaat – saat genting dimana aku harus menginjakkan kaki ke kelas lain.

Hari ini …

Aku juga sangat bahagia, walaupun harus berpisah dengannya dalam kurun waktu yang cukup lama “menurut saya”, aku berfikir bahwa semakin menjaduh dari dirinya tentu akan membuatku semakin merindukannya dan hampir setiap waktu memikirkannya.

Dan Hari ini pula ( lebih tepatnya malam ini lahh ) …

Aku merasa sangattt sangattt lelahhhh …

Ayo tidur … zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

Hanyakah sebuah ornamen bangsa ... ?

on Rabu, 01 Juni 2011

Pancasila …

Adakah rakyat Indonesia yang tidak mengenal Pancasila ? Pancasila sudah tidak asing lagi ditelinga rakyat Indonesia. Kalau pun ada yang tidak mengenal Pancasila maka patut dipertanyakan statusnya sebagai warga negara Indonesia. Jika berbicara tentang Pancasila maka kita akan membahas Ideologi Bangsa Indonesia. Sebuah Ideologi yang harusnya menjadi dasar dari setiap masyarakat dalam melakukan tindakan. Mau itu pejabat, polisi, dokter, masyarakat biasa dan lain – lain. Namun, seiring menuanya dunia, lambat laun ideologi itu sudah mengalami distorsi dari fungsi sebenarnya.

Korupsi, konflik antar suku bangsa, adanya mafia hukum adalah contoh kecil dari banyaknya tindakan – tindakan dari warga Indonesia yang membuktikan bahwa ideologi Pancasila sudah tidak lagi menjadi ideologi rakyat Indonesia.

Sedikit saya menyinggung kata – kata B.J Habibie pada pidato dalam peringatan hari lahir Pancasila tanggal 1 Juni 2011 kemarin. Ia berkata bahwa pada masa rezim orde baru, terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif. Lalu menjadi senjata ideologis dan memposisikan Pancasila sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan.

Maka saat terjadi pergantian rezim dari era Orde Baru ke era Reformasi, maka timbullah suatu demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang mengaggap Pancasila sebagai simbol atau ikon politik pada masa Orde Baru. Ini merupakan suatu kesalahan besar.

Pancasila dianggap sebagai suatu ideologi monopolistik. Jadi seiring banyaknya euforia reformasi maka semakin tenggelam pula ideologi bangsa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1945 tersebut. Jadi perlu reaktualisasi nilai – nilai Pancasila

Oleh karena itu, marilah kita kembali menjadikan Pancasila sebagai dasar dalam melakukan berbagai tindakan, menjadikan kembali sebagai ideologi Bangsa Indonesia bukan hanya sekedar ornamen politik. Ubahlah tindakan kita sehingga berasaskan kelima hal berikut :

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

3. Persatuan Indonesia.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Kebijksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

5. Keadilan Sosiial bagi seluruh Rakyat Indonesia.